Jakarta – MSN, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu (11/4).

Ketua DPRD Khoirudin menghadiri kegiatan itu bersama Wakil Ketua DPRD Rany Mauliani, dan Wakil Ketua DPRD Wibi Andrino.

Hadir pula Wakil Ketua Komisi B Wahyu Dewanto, Ketua Komisi D Yuke Yurike, Anggota Komisi A Hilda Kusuma Dewi, Nuchbatillah dan Riano P. Ahmad, Anggota Komisi D Ali Muhammad Johan, serta Anggota Komisi B Muhammad Taufik Zoelkifli.

Turut hadir Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FORKOPIMDA) DKI Jakarta, tokoh adat, ulama, serta pengurus Badan Musyawarah (Bamus) Betawi.

Perayaan itu menampilkan berbagai prosesi adat. Mulai dari hantaran, pementasan seni, hingga bazar kuliner khas Betawi. Kegiatan itu berlangsung mulai 10-12 April 2026.

Pada kesempatan itu. Gubernur Pramono Anung menegaskan, identitas Budaya Betawi harus tetap lestari dan menjadi fondasi utama dalam menjaga keberagaman.

Terlebih lagi dalam waktu dekat, Jakarta bertransformasi menjadi kota global. “Tradisi ini bukan sekadar ajang silaturahmi setelah bulan suci Ramadan, tetapi simbol kemenangan kita dalam menjaga guyub dan rukun di tengah keberagaman Jakarta,” ujar Pramono.

Untuk mewujudkan hal itu, Pramono mengajak masyarakat agar menjaga nilai-nilai luhur Budaya Betawi. Seperti sikap terbuka (egaliter) dan semangat gotong royong di tengah modernisasi yang kian pesat.

Dengan demikian, kemajuan teknologi dan status Jakarta sebagai pusat ekonomi internasional tidak menggerus akar budaya lokal.

“Menjadi kota global bukan berarti kita meninggalkan akar budaya kita. Justru, nilai-nilai luhur Betawi adalah fondasi utama yang membuat Jakarta memiliki jiwa,” tutur Pramono.

Pramono juga mengapresiasi generasi mudah yang terlibat aktif melestarikan Budaya Betawi. Keberadaan ornamen khas seperti Gigi Balang yang bersanding dengan inovasi digital serta sajian kuliner kerak telor dan bir pletok masih banyak diminati Generasi Milenial dan Z.

“Lebaran Betawi tahun ini spesial karena kita melihat kolaborasi luar biasa. Kita melihat wajah Jakarta yang kita inginkan, modern namun tetap berakar,” tambahnya.

Dengan demikian, Pramono memastikan, Pemprov DKI Jakarta berkomitmen penuh mendukung pelestarian Budaya Betawi.

Di antaranya dengan menjadikan kampung-kampung budaya sebagai pusat ekosistem ekonomi kreatif yang mampu menghidupkan masyarakat.

“Dengan memohon ridha Allah SWT, perayaan Lebaran Betawi 2026 secara resmi saya nyatakan terus berlanjut dengan penuh keberkahan,” kata Pramono.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Majelis Kaum Betawi Fauzi Bowo menyatakan, Lebaran Betawi membawa pesan mendalam bagi warga Jakarta untuk tetap berpijak pada akar Budaya Betawi.

Tentunya dengan menanamkan nilai-nilai tradisional. Seperti gotong royong dan penghormatan terhadap pendahulu yang harus diwariskan untuk generasi muda. Sehingga tidak tergerus modernisasi.

“Lebaran Betawi ini sekaligus juga menjadi pengingat kepada seluruh warga kota Jakarta, pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi Budaya Betawi sebagai bagian dari identitas kota Jakarta,” kata mantan gubernur yang akrab disapa Foke itu.

Foke juga menyoroti tradisi hantaran atau sorogan dari masing-masing pejabat di lima wilayah kota terhadap pemimpin daerah.

Pemberian itu merupakan simbol takzim dan penghormatan secara budaya. Bukan praktik gratifikasi yang melanggar hukum.

“Ini bukan gratifikasi. Jadi ini budayanya orang Betawi. Mudah-mudahan pak gubernur dan para pejabat tidak perlu sampai dipanggil KPK untuk mempertanggungjawabkan serah-serahan ini,” pungkas dia. (apn/df)