Minahasa – MSN, Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Sri Haryati, mewakili Menteri PKP Maruarar Sirait, melakukan tinjauan langsung ke Perumahan Griya Bumi Asih Sawangan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Rabu (8/4/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Sri Haryati mengapresiasi kualitas pembangunan rumah subsidi di kawasan tersebut, terutama dari sisi luas lahan, kualitas bangunan, serta ketersediaan sarana dasar yang dinilai sudah memenuhi standar hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

“Bagus karena rumah subsidi di Griya Bumi Asih ini luas tanahnya sekitar 100 meter persegi, sehingga masih ada sisa lahan yang bisa dimanfaatkan, misalnya untuk menanam pohon atau pengembangan rumah ke depan. Lingkungannya juga terasa nyaman,” ujar Sri Haryati.

Ia juga menilai kualitas bangunan yang dibangun pengembang sudah cukup baik, mulai dari struktur tembok, atap, langit-langit, hingga fasilitas dasar seperti air bersih dan kamar mandii. “Kita senang melihat developer yang serius membangun rumah subsidi dengan kualitas yang baik. Pemerintah terus berkomitmen untuk menyiapkan hunian yang layak, aman, dan terjangkau bagi masyarakat melalui berbagai program perumahan,” tambahnya.

Sementara itu, Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho, menyampaikan bahwa melalui program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), realisasi rumah subsidi di Sulawesi Utara terus mengalami peningkatan signifikan.

“Realisasi rumah subsidi di Sulawesi Utara meningkat dari 2.146 unit pada tahun 2024 menjadi 3.015 unit pada 2025. Tahun ini, kami menargetkan peningkatan hingga dua kali lipat, yakni sekitar 7.500 unit dapat tersalur di Sulawesi Utara,” jelas Heru.

Di sisi lain, Direktur Perumahan Griya Bumi Asih, Komang Agus, menjelaskan bahwa pengembangan perumahan tersebut telah dimulai sejak tahun 2014 dengan total luas lahan mencapai 37,9 hektare dan kapasitas keseluruhan sekitar 2.168 unit rumah. “Saat ini telah terbangun sebanyak 526 unit, dengan 393 unit sudah ditempati. Ready stock tersedia 63 unit, dan 27 unit masih dalam proses pembangunan. Tingkat keterhunian mencapai lebih dari 90 persen,” ujar Komang.

Ia menambahkan bahwa tingginya tingkat keterhunian menunjukkan bahwa rumah subsidi tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh MBR sebagai hunian, bukan untuk investasi. “Mayoritas pembeli adalah keluarga muda, ASN, TNI/Polri, pegawai swasta, pelaku UMKM hingga petani. Tingkat kredit bermasalah juga nol persen hingga saat ini,” tambahnya.

Ke depan, pengembang masih memiliki potensi pengembangan sekitar 1.650 unit tambahan dan berkomitmen mendukung program pemerintah dalam penyediaan rumah subsidi bagi masyarakat. “Kami sengaja menyediakan lahan lebih luas, sekitar 9 x 12 meter atau 108 meter persegi, agar penghuni dapat mengembangkan rumahnya di masa depan, seperti menambah kamar atau parkir kendaraan,” jelas Komang.

Kunjungan ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam memastikan pembangunan rumah subsidi berjalan dengan baik serta mendorong pengembang untuk terus menyediakan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah di berbagai daerah, termasuk Sulawesi Utara. (Jay)