Jakarta – MSN, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa ekonomi syariah tidak boleh lagi diposisikan sebagai pelengkap dalam pembangunan nasional, melainkan sebagai salah satu pilar utama strategi ekonomi Indonesia ke depan.
“Ekonomi syariah adalah bagian dari strategi besar pembangunan sejajar dengan ekonomi hijau dan ekonomi digital. Bukan simbol, bukan retorika, tetapi instrumen nyata dalam memperkuat kemandirian ekonomi bangsa,” ungkap Menteri Keuangan dalam Syariah Economic Forum, di Metro TV, Kamis (12/02).
Menkeu mengakui, Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, namun masih tertinggal dalam pengembangan pusat keuangan syariah secara global.
“Pusat syariah bukan di Jakarta, namun ada di London, Hong Kong, Singapura. Kita ketinggalan sekali dalam hal itu,” ujar Menkeu.
Menurut Menkeu, hal itu terjadi akibat kebijakan nyata yang mendorong ekonomi syariah belum terlihat jelas dalam pembangunan. Ia juga menyoroti praktik perbankan syariah di Indonesia yang dinilai belum kompetitif dari sisi pembiayaan dan rumit bagi pelaku usaha.
Saat ini, Pemerintah telah menerbitkan green sukuk untuk membangun ekosistem keuangan syariah dan membiayai proyek nyata di dalam negeri. Menkeu juga menghimbau agar para pelaku usaha dan komunitas ekonomi syariah bersinergi untuk merumuskan strategi pembangunan ekonomi syariah ke depan.
“Pemerintah siap mendukung usulan atau proposal dari dunia ekonomi syariah yang menurut saya selama ini belum optimal. Kalau dioptimalkan, pasar dalam negeri akan dikuasai oleh produsen dalam negeri, kita juga bisa menguasai pasar internasional nanti secara bertahap,” tukas Menkeu. (feb/rap)
